Awal kisah, dulunya Desa Pucung hanyalah hutan yang di penuhi dengan pohon karet dan pohon-pohon lainnya.
K.H. Toebagoes Entol keturunan Kerajaan Mataram yang dulunya adalah seorang perajurit perang, putra sulung dari salah satu anggota kerajaan. Ia ditugaskan oleh Ayahnya untuk ikut perang dalam peperangan Batavia yang terjadi di Jakarta, Ia tidak boleh pulang oleh ayahnya sebelum perang usai dan memenangkan peperangan itu. Karana peperangan terjadi cukup lama, K.H. Toebagoes Entol pun kehabisan perbekalan dan alat-alat untuk perang. Akhirnya K.H. Toebagoes Entol pun pergi dari peperangan untuk mencari perbakalannya dan mencari perajurit baru yang mau ikut berperang untuk membela bangsa Indonesia.
Setelah berminggu-minggu K.H. Toebagoes Entol berkelana mencari perbekalan dan perajurit baru, akhirnya K.H. Toebagoes Entol pun sampai disuatu daerah yang terletak di sebelah utara pulau jawa (yang pada saat itu, daerah tersebut belum ada namanya). K.H. Toebagoes Entol pun menetap di daerah tersebut dan membuat gubuk yang kecil hanya terbuat dari bambu-bambu yang disusun-susun. Setelah bertahun-tahun K.H. Toebagus Entol tinggal didaerah tersebut dan mulai terbiasa dengan daerah tersebut, juga sudah mulai akrab dengan penduduk sekitar. K.H. Toebagoes Entol pun akhirnya mendirikan perkumpulan pelatihan keperajuritan, untuk persiapan peperangan yang tiba-tiba saja bisa terjadi. Di Perkumpulan tersebut, K.H. Toebagoes Entol megajarkan kepada masyarakat tentang berperang yang baik dan melatih bela diri untuk jaga-jaga.
Akhirnya setelah dianggap orang paling berpengaruh di daerah tersebut oleh warga sekitar, K.H. Toebagoes Entol pun mulai dihormati dan di segani oleh warga-warga sekitar. Berkat ketekunan beliau juga, banyak warga-warga dari daerah luar ingin bergabung dengan perguruan K.H. Toebagus Entol dan juga banyak petani-petani yang berdatangan ke rumah beliau yang ingin meminta do’a restu untuk memanen sawah-sawahnya.
Waktu pun bertambah, di usia kesekian tahunlah (tidak ada satu orang pun yang mengetahui wafatnya K.H. Toebagoes Entol) K.H. Toebagoes Entol meninggal dunia dan tidak sedikit warga-warga sekitar merasa kehilangan dan merasa bersedih atas meninggalnya K.H. Toebagoes Entol.
Akhirnya jasad K.H. Toebagoes Entol pun di makamkan di rumahnya sendiri dan banyak sekali warga yang mengikuti pemakaman K.H. Toebagoes Entol.
Tanpa sadari oleh warga sekitar, makam K.H. Toebagoes Entol banyak di tumbuhi oleh pepohonan picung yang baru pertama tumbuh di daerah tersebut. Tumbuhan picung tersebut berkhasiat untuk mengobati luka-luka parah maupun terkena gigitan ular.
Untuk mengenang jasa K.H. Toebagoes Entol, warga sekitar pun mendirikan bangunan untuk melindungi makam K.H. Toebagoes Entol. Dan akhirnya warga sekitar pun menamai daerah mereka dengan “PUCUNG” yang diambil dari nama tumbuhan yang tumbuh di makam K.H. Toebagoes Entol dan juga yang pertama tumbuh didaerah tersebut, yaitu tumbuhan “PICUNG”.
Makam K.H. Toebagoes Entol pun masih ada sampai sekarang dan terjaga rapih. Makam tersebut terletak di pemakaman Cipondoh perbatasan antara Desa Wancimekar dan Pucung. Pemakaman Cipondoh sendiri adalah tanah waqaf dari K.H. Toebagoes Entol. Tanah tersebut pun, akhirnya dijadikan pemakaman sampai sekarang…….
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar